Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2012

Al-Qur’an Sumber Ilmu Yang Tak Pernah Kering


Al-Qur’an Sumber Ilmu Yang Tak Pernah Kering

SEMAKIN digali dan dikaji, akan semakin luas dan dalam kandungan ilmu yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Dalam suatu kesempatan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, pernah berdiskusi dengan seorang profesor dari Universitas McGill, Montreal, Kanada. Sang profesor mengajar mata kuliah Islamologi di universitas tersebut.

Sebagai dosen Islamologi, apa yang paling menarik dari agama yang dibawa Muhammad ini?” tanya Komaruddin.
Sang profesor menjawab, “Saya sangat terkesan dengan Al-Qur’an.

Profesor ini menambahkan, “Jika saya membaca buku-buku teori akademis, cukuplah seminggu persiapannya dan saya sudah bisa menjelaskan di depan mahasiswa hampir 80 persen dari kandungan buku serta formula pokoknya. Kalau saya membaca novel, cukuplah sekali saja, sudah malas membaca untuk yang kedua kalinya. Buku-buku ilmiah itu, loginya linier, runtut, mudah diikuti urai-uraiannya sejak dari judul, daftar isi, masalah pokok, metode pembahasan, tesis pokok yang disajikan, dan kemudian kritik serta kesimpulan. Bahkan, dengen metode speed reading (baca cepat), buku yang cukup tebal bisa dibaca dalam waktu sehari saja. Namun, sungguh berbeda ketika saya membaca Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurut pengakuan sang profesor, pada awalnya dirinya merasa bingung dengan gaya bahasa Al-Qur’an yang loncat-loncat dan tidak sistematis. Namun demikian, dirinya terus saja membaca Al-Qur’an.

Kalau memang susunan kata dan kalimatnya tidak sistematis dan kacau, mengapa kitab ini selalu dicetak ulang hingga ribuan kali. Bahkan, banyak orang yang mendapatkan ilmu pengetahuan dan inspirasi serta menulis ribuan buku dari kitab yang tidak konsisten ini,” jelas profesor tersebut sebagaimana ditirukan Komaruddin Hidayat.

When I read Al-Qur’an, I feel I take a long and beautiful journey of meaning trhough sentence by sentence, word by word,” ungkap profesor tersebut. Penjelasan ini disampaikan Komaruddin dalam pengantanya pada buku Matematika Al-Qur’an yang ditulis oleh KH. Fahmi Basya.

Komaruddin mengatakan, Al-Qur’an memiliki keunikan. Karena keunikannya itu pula, banyak ilmuwan terinspirasi untuk menulis dan mengemukakan sesuatu berdasarkan keterangan Al-Qur’an.

Lihatlah, betapa banyak buku keislaman yang ditulis oleh sejumlah ilmuwan yang sebagian besar bersumber dari Al-Qur’an. Dalam bidang keagamaan, tercatat buku-buku fikih, akidah, filsafat, tafsir, sejarah nabi dan rasul, dan lain sebagainya.
Sementara itu, dalam bidang umum, banyak ilmuan berhasil mengungkapkan beragam ilmu pengetahuan yang juga berdasarkan Al-Qur’an. Misalnya, matematika, fisika, kimia, biologi, geografi, teknologi, pembuatan pesawat terbang, ilmu tentang hewan, laut, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.

Al-Qur’an mengatakan, “Katakanlah, sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfii: 109)

Dalam surah Lukman ayat 27, Allah berfirman, “Dan, seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bagaikan sumber ilmu pengetahuan yang tak akan pernah habis untuk ditulis manusia kendari semua samudra (lautan) yang ada di dunia ini dijadikan tinta. Bahkan, hingga kering lautan itu dan ditambahkan lagi sebanyak tujuh samudra, ilmu Allah masih sangat luas.

Dalam surat Al-Israa ayat 85, Allah berfirman, “Dan, tidaklah kamu diberi ilmu, kecuali hanya sedikit.” Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu manusia sangatlah kecil di mata Allah. Manusia tidak mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Sedangkan, Allah mengetahui semuanya baik yang di langit, di bumi, di antara keduanya, maupun yang tersembunyi, tak luput dari pengetahuan Allah.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syarat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui pa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan, Allah tidak merasa berat memelihari keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Dalam hal ini, Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris al-Syafi’i) pernah berkata, “Semakin aku mengetahui sesuatu, akan makin tampak kebodohannku.” Keterangan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan yang akan selalu berkembang. Dan, hanya orang-orang yang beriman dan diberi petunjuk yang sanggup membuka sebagian rahasia dari ilmu Allah. Mereka itulah orang-orang yang berpikir dan menggunakan akalnya. Wa Allahu A’lam. [sya]

Dikutip dari Islam Digest Republika Edisi Ahad, 16 Agustus 2009.

Jumat, 16 Desember 2011

Berhati-Hati dengan Waktu Luang


Berhati-Hati dengan Waktu Luang
Oleh Mochamad Bugi


Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling” (QS. Al-Hajj: 1). Maha Kuasa Allah yang menciptakan arena bumi sebagai sarana ujian. Kekayaan alam yang bergitu melimpah. Sungai-sungai jernih yang melahirkan kehidupan. Huja yang membangkitkan harapan. Dari situlah hamba-hamba Allah membuktikan diri: apakah ia sebagai hamba yang konsisten atau dusta.

Ada baiknya berhati-hati dengan yang boleh. Tak ada yang tanpa batas di dunia ini. Karena sunnatullah dalam alam, semua tercipta dalam takaran tertentu. Dari takaran itulah, keseimbangan bisa langgeng. Termasuk keseimbangan dalam diri masnusia.

Kalau keseimbangan goyah, yang muncul adalah kerusakan. Dalam diri manusia, ada tiga keseimbangan yang mesti terjaga: keseimbangan akal, rohani, dan fisik. Satu keseimbangan terganggu, selutuh fisik mengalami kerusakan.

Ketidakseimbangan bukan cuma dari sudut kekurangan. Berlebih-lebihan pun bisa memunculkan ketidakseimbangan. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis. Di antara urusan fisik adalah makan dan minum.

Allah Swt. berfirman, “....makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Berlebih-lebihan dalam makan dan minum, walaupun halal, bisa memunculkan penyakit. Lebih dari 50% sumber penyakit berasal dari lambung. Karena itulah, Rasulullah Saw. meminta kaum muslimin untuk mengerem makan. Dan cara yang paling bagus adalah dengan puasa. Beliau Saw. mengatakan, “Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat”. (Al Hadits)

Masih banyak hal boleh lain yang mesti pas dengan takaran. Diantaranya, hubungan seksual suami istri, tidur, dan juga bersantai.

Sayangnya, ada kecenderungan manusia memilih jalan yang gampang daripada yang sukar. Lebih memilih santai ketimbang banyak kerja. “Maka tidaklah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (QS. Al-Balad: 11). Santai pada timbangan yang proporsional memang bagus. Karena itu bermakna istirahat. Dari istirahatlah keseimbangan baru bisa lahir. Dengan istirahat, lelah bisa tergantikan dengan kesegaran baru.

Tapi, ketika santai tidak lagi proporsional, yang muncul hura-hura dan kemalasan. Orang menjadi begitu hedonis. Orientasi bergeser dari keimanan kepada serba kesenangan. Saat itu, santai tidak cuma menggusur jenus, tapi juga kewajiban-kewajiban. Bisa kewajiban sebagai suami, anak, dan juga sebagai hamba Allah Swt.

Di antara ciri orang beriman adalah berhati-hati dengan perbuatan yang sia-sia. Allah Swt. berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al-Mu’minun: 1-3)

Rasulullah Saw. mewanti-wanti para sahabat agar berhati-hati dengan waktu senggang. Beliau Saw. bersabda, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari)

Ada banyak cara menggusur letih dan jenuh. Letih dan jenih kadang tidak cuma bisa disegarkan dengan santai. Ada banyak cara agar penyegaran bisa lebih bermakna dan sekaligus terjaga dari lalai. Para sahabat Rasul biasa mengisi waktu kosong dengan tilawah, zikir, dan shalat sunnah. Itulah yang biasa mereka lakukan ketika suntuk saat jaga malam. Bergantian, mereka menunaikan shalat malam.

Bentuk lainnya adalah bermain dengan istri dan anak-anak. Rasulullah Saw. pernah lomba lari dengan Aisyah r.a. Kerap juga bermain ‘kuda-kudaan’ bersama dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Dari sini, santaibukan sekadar menghilangkan jenuh. Tapi juga membangun keharmonisan keluarga.

Rasulullah Saw. mengatakan, “Orang yang cerdik ialah yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah.” (HR. Abu Daud)

Dan harus kita sadari betul, ada pihak lain yang mengintai kelengahan kita. Pertarungan antara hak dan batil tidak kenal istilah damai. Tetap dan terus berlangsung hingga hari kiamat. Dari situlah, saling mengintai dan saling mengalahkan menjadi hal lumrah. Dan kewaspadaan menjadi hal yang tidak boleh dianggap ringan.

Pihak yang jelas-jelas melakukan pengintaian adalah musuh abadi manusia. Dialah iblis dan para sekutunya. Allah Swt. membocorkan itu dalam firman-Nya, “Iblis mengatakan, ‘Karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’”. (QS. Al-A’raf: 16-17)

Pihak lain adalah kelompok manusia yang tidak suka dengan perkembangan Islam. Mereka selalu mengintai kelemahan umat Islam, mengisi rumah-rumah umat Islam dengan hiburan yang melalaikan. Bahkan, mengkufurkan. Masih banyak upaya lain orang kafir untuk menghancurkan Islam.

Karena itu, berhati-hatilah dengan waktu luang. Kalau tidak bisa diisi dengan yang produktif, setidaknya, isilah dengan yang tidak melalaikan.

Dikutip dari “Buletin Mitra Ummah oleh Lembaga Kemanusiaan dan Amil Zakat Nasional PKPU Cabang Sumatera Barat”. Edisi 289 thn VIII.