Sabtu, 12 Mei 2012

Makanlah dari Rezeki yang Halal

Makanlah dari Rezeki yang Halal

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Saw., ‘Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih.’”
Dan Dia berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai Tuhan,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya. (HR. Muslim)

Kata ‘thayyib’ atau baik berkenaan dengan sifat Allah. Maksudnya ialah bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa tercampur yang syubhat atau samar-samar, tidak jelas kedudukannya.


Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang disebut pada hadits ini. Hadits ini menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Sebagaimana orang mengelurkan zakat, bersedekah, menyantuni anak yatim, fakir miskin, dan lainnya. Makanan yang enak tetapi tidak halam menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.


Penjelasan kalimat mengenai kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu. Maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum, dan pakaianan dari hasil yang haram. Ia telah mencampur baurkan perbuatan baiknya dengan perbuatan tidak baik. Sebagaiaman orang menyedekahkan uang dari hasil korupsi, meski tujuaanya baik tapi bersumber dari hal tidak halal. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku dzalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?


Orang tersebut dalam hadits ini dijelaskan juga menengadahkan kedua tangannya berdoa kepada Allah memohon sesuatu, namun di tengah doanya itu dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama. Adapun makanannya haram mengandung pengertian maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan doanya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia. Wallahu a’lam.

 

Disalin ulang dari Buletin Mitra Ummat PKPU Sumbar Edisi 478 thn XII.

Sabtu, 05 Mei 2012

Itsar, Mengutamakan Kebutuhan Orang Lain

Itsar, Mengutamakan Kebutuhan Orang Lain
 

Suatu ketika datang seseorang bertemu kepada Rasulullah Saw. dalam keadaan letih dan lapar. Rasulullah kemudian menanyakan kepada istri-istrinya apakah mereka memiliki simpanan persediaan makanan. Namun, tak seorangpun di antara istri Rasulullah yang mulia ini mempunyai simpanan makanan untuk menjamu tamu tersebut.


Akhirnya Rasulullah Saw. menemui sahabatnya dan menawarkan kepada mereka, beliau bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang mau menjamu tamu ini, maka Allah akan merahmatinya.” Lalu berdirilah seorang sahabat dari kalangan Anshar, seraya berkata, “Saya akan menjamunya wahai Rasulullah.”
Akhirnya, diajaklah tamu tersebut pulang ke rumah mereka. Sesampai di rumah, sahabat Anshar ini bertanya kepada istrinya, “Wahai istriku, apakah engkau masih memiliki sesuatu makanan?” Sang istri pun kemudian menjawab, “Tidak, selain sedikit persediaan makanan untuk anak-anak kita.” Maka spontan ia berkata kepada istrinya, “Cobalah bujuk anak-anak kita agar mereka bermain-main, sehingga lupa akan rasa lapar, lalu matikanlah lampu pada waktu makan, dan berpura-puralah bahwa kita juga sedang makan, pada saat tamu kita makan.”


Maka, pada waktu makan malam, dimatikanlah lampu di rumah tersebut, dan dihidangkannya makanan yang semestinya untuk anak-anak mereka, lalu mereka berpura-pura menyantap hidangan bersama sang tamu yang sedang menikmatii makan malamnya. Hingga pada pagi hari, ketika sahabat Anshar ini menghadap kepada Rasulullah, beliau berkata, “Allah heran dengan tingkah kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam,” lalu turunlah surat Al-Hasyr ayat 9, berkaitan dengan kisah sahabat Anshar ini.
Pada kisah lainnya dalam perang Yarmuk, dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan, “Telah syahid al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Hahal dan Suhail bin Amr. Mereka semua dalam keadaan kritis dalam masa perang, ketika mereka itu akan diberi minum mereka menolak meminumnya dan meminta agar minuman itu diberikan kepada saudaranya yang lain. Begitu disodorkan air itu kepada pejuang yang juga dalam kritis, kembali air itu ditolahnya dan meminta agar air itu diberikan kepada saudaranya yang lain kehausan. Sampai akhirnya semuanya meninggal sementara mereka belum sempat meminum air itu."


Dalam riwayat ini perawi menceritakan, “Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits). Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (setetespun)."

Mengutamakan Kebutuhan Saudaranya
Sungguh kisah penuh dengan makna mendalam ini bukanlah dongeng yang biasa diceritakan untuk anak-anak menjelang tidur, atau cerita-cerita fiksi yang ada di film dan sinetron di televisi. Tapi ada kisah nyata yang sangat menggugah dan mengagumkan pernah terjadi di masa Rasulullah. Kisah penuh dengan teladan yang tanpa basa basi dan kepura-puraan yang diperlihatkan oleh salah satu generasi terbaik yang dimiliki oleh dunia, sebagaimana termaktub di dalam hadits Bukhari Muslim. Kisah yang sulit ditemukan bandingannya, terlebih pada zaman modern ini yang mana manusia sudah terjangkiti penyakit egois dan individualis (Ananiyah). Mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan orang lain. Sebagian orang sering mengatakan dalih, jangankan untuk berbagi kepada orang lain, untuk diri sendiri saja masih kurang.
 

Padahal persediaan makanan dan bekal lain yang ada di rumah kita, bukan hanya cukup untuk satu hari atau satu minggu, namun persediaan untuk beberapa bulan ke depan pun sudah kita punyai, tetapi tak timbul sedikitpun rasa belas kasih dan keiinginan berbagi kepada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan. Lebih ironis lagi sebagian orang melakukan penimbunan kebutuhan pokok dengan tujuan mendapatkan keuntungan tanpa peduli kesusahan orang miskin yang akan sulit mendapatkannya.
 

Lebih menyedihkan lagi, sebagian orang bersikap hidup boros dengan menganggap apa yang mereka miliki boleh diperlakukan sesukanya. Membuah makanan dengan begitu saja tanpa berpikir akan lebih manfaat jika diberikan kepada orang kelaparan. Begitu banyak makanan terbuang begitu saja di meja-meja makanan kita sedangkan saudara kita yang lain menahan perih lapar dan dahaga siang dan malam. Mereka menangis tanpa suara tanpa kita menyadari bahwa mereka adakah saudara kita.
 

Kita semua sudah sama-sama hafal sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa kita belum beriman jika kita dalam keadaan kenyang dan kita acuh dan abai terhadap orang-orang di sekitar kita yang bermalam dalam keadaan perut kosong karena tak mempunyai sedikitpun makanan di rumahnya. Bahkan Rasulullah menegaskan dalam sabdanya bahwa persoalan kepekaan terhadap saudara ini sebagai salah satu tanda keimanan. “Tidaklah beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya hingga dia mencintai sebagaimana dirinya sendiri.

Kisah sahabat dari kalangan Anshar itu sungguh luar biasa hebatnya yang begitu ikhlas dan hnya mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, dengan mengutamakan agar kebutuhan saudaranya. Padahal orang itu sama sekali tidak dikenalnya, tidak memiliki pertalian keturunan keluarga dan darah, tetapi ia mampu menggerakan imannya untuk berbuat sesuatu meskipun ia dalam keadaan susah.
 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an terkait hal itu, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah berimana (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajiwin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Pemahaman Itsar
Itsar adalah mendahulukan dan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan orang lain dari diri sendiri, sedang diri sendiri juga dalam keadaan yang sangat membutuhkan. Sebuah akhlak mulia yang diukir dengan tinta emas dalam sejarah bagi pelaku-pelakunya, menembus ke langit hingga Allah Swt. heran dan takjub. Sesungguhnya itsar bukanlah sesuatu yang utopia dan tidak mungkin kita hiaskan pada diri kita sebagai akhlak dan sifat kita, namun terkadang nafsu akan dunia sangat dominan bercokol di hati dan fikiran kita. Pertimbangan dan perhitungan untung rugi yang bersifat materi dan keduniaan sering kali membuat kita merasa berat jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan yang pada saat yang sama kita juga membutuhkan.
 

Hitunglah betapa seringnya kita memberikan isyarat dengan tangan kita kepada orang yang meminta-minta, sebagai tanda kalau kita tak hendak memberi, betapa seringnya kita menerima tamu di rumah kita sebagai beban dan merepotkan, padahal Rasulullah sudah mengingatkan kita barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya. Atau betapa seringnya tetangga sebelah rumah kita hanya mencium harum dan sedapnya aroma makanan yang kita masak, tanpa pernah terpikir di benak kita untuk berbagi dengan mereka.
 

Kita tahu bahwa seberat dzarrah pun kebaikan, pasti Allah akan memberikan ganjaran dan pahalanya di akhirat nanti, namun perasaan kurang yakin dan egoisme yang ada di dada kita senantiasa menghalangi kita untuk berbuat baik, sehingga kita lebih mementingkan kebahagiaan di dunia dan mengabaikan yang abadi di akhirat. Angan dan khayal kita tentang dunia senantiasa membumbung tinggi, sehingga lalai mempersiapkan kehidupan di akhirat dengan amal-amal shalih.
 

Bagi para pemujanya, dunia adalah segala-galanya, yang mereka cari dan usahakan adalah kebahagiaan dunia, dengan melupakan Allah dan akhirat. Sehingga saat kematian menjemputnya, kebahagiaannya terhenti samapai di situ, yang tinggal hanyalah sesal dan sengsara. Allah Swt. berfirman tentang orang-orang ini, “Tetapi kalian lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)
Itsar sering kita anggap sebagai sesuatu yang sulit dan berat kita lakukan, telah diabaikan dalam sejarah dengan tinta emas oleh para sahabat Rasul dengan sangat mengagumkan. Bukan hanya sebatas lapar dan haus yang mereka tanggung demi saudaranya, namun nyawa mereka persembahan untuk Allah Swt., demi itsar terhadap saudaranya, sebagai teladan dan hikmah untuk kita. Insya Allah.* Disarikan Tim Buletin Mitra Ummat.
 

Disalin ulang dari Buletin Mitra Ummat PKPU Sumbar Edisi 478 thn XII.

ODI MALIK - Lai Tabao Batinggakan


Di ateh tugu rang pacah
Di baruah tikalak makan
Tangah-tangah jalo babega,
Lari bana ka liang batu
Basilang uwik jo panggali
Sinan manangih surang diri

Malang, untuangnyo puluik-puluik
Lai tabAo batinggakan
Padonyo tumbuah bialah mati....
Rintang maetong sakik hiduik
Lalok salayang hari siang
Den paluak banta den tangisi....

Risau lai...
Den paluak banta den tangisi

Selasa, 01 Mei 2012

Pasang Iklan Baris GRATIS: Rahasia Pemula Mengumpulkan Kekayaan lewat Interne

Judul Iklan*:Rahasia Pemula Mengumpulkan Kekayaan lewat Internet dengan MUDAH dan CEPAT
Nama*:suryono
Email*:yonosur@rocketmail.com
Jenis Iklan*:Iklan Pribadi
Situs Web:http://www.formulabisnis.com/?id=yono1
Telp./HP*:08814614898
Isi Iklan*:Anda merasa GAPTEK atau PEMULA tapi ingin mempunyai usaha sampingan yang dapat menghasilkan 30juta perbulan atau bahkan lebih dari internet dengan metode yang benar, mudah dan pasti terbukti??? Bergabunglah dengan kami..



Powered by EmailMeForm

Cara Setting Hibernate Otomatis Ketika Layar ditutup pada Windows 7

Assalamu’alaikum dunsanak...

Sebagian dari dunsanak, shutdown atau sleep secara otomatis pada laptop/PC yang dunsanak tutup bukanlah hal yang diinginkan, dalam kata lain lebih tepat disebut Hibernate. Namun sebagian dari dunsanak, pasti juga ada yang menginginkan pengaturan ini.
Hibernate ini akan menyimpan semua aktifitas dunsanak di komputer/laptop, sehingga disaat startup tidak perlu lagi membuka aplikasi dari awal, karena aplikasi tetap berada pada saat sebelum komputer dunsanak di-hibernate.

Nah, dunsanak ingin tahu bagaimana cara pengaturan hibernate otomatis ketika layar ditutup pada Windows 7?
Untuk pengaturan hibernate otomatis ini, lakukan pengaturan di Power Options. Buka, Control Panel > System and Security. Pada bagian Power Options klik Change what the power buttons do.

Selanjutnya pada bagian When I close the lid, pilih Hibernate.

Klik Save changes untuk menyimpan perubahan.

Sehingga, pada saat dunsanak menutup layar maka secara otomatis komputer dunsanak akan hibernate.

Semoga bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan komentar ya... ^_^
Wassalamu’alaikum...
 

Senin, 30 April 2012

Cara Membuat Link

Assalamu'alaikum dunsanak...

 

Kalau dunsanak ingin memiliki sebuah blog, tentu dunsanak harus mengerti bagaimana cara membuat sebuah link, karena hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting apalagi kalau nantinya dunsanak jadi tertarik dengan ilmu SEO (Search Engine Optimization).
 

Dalam bahasa Indonesia sendiri, link disebut dengan tautan. Maksudnya, jika suatu tulisan, gambar, atau hal lain yang apabila diklik maka akan menuju ke suatu halaman tertentu sesuai dengan alamat tautan yang dibuat oleh si pembuat link.
Silahkan dunsanak klik tulisan atau gambar berikut: Pasang Iklan Murah
Maka secara otomatis akan terbuka sebuah halaman lain, sesuai dengan alamat halaman yang dibuat.

Bagaimana caranya?
Terdapat berbagai cara untuk membuat sebuah link, sesuai dengan bahasa pemrograman web yang dunsanak gunakan. Kalau dunsanak menggunakan blogger, maka bahasa pemrograman yang digunakan adalah HTML (HyperText Mark-up Language).
 

Sebelum membuat sebuah link, hal yang perlu dunsanak siapkan, antara lain:

  1. Tulisan, gambar, atau pun hal lain yang akan diberi link.

  2. Kode HTML yang digunakan untuk membuat link.

  3. Alamat url yang akan dituju. Contoh alamat link: http://dindrirahmad.blogspot.com/2011/11/pasang-iklan.html

Setiap halaman yang terdapat pada internet pada dasarnya pasti mempunyai alamat link. Alamat link tersebut bisa dunsanak lihat pada address bar browser internet yang digunakan. Contoh untuk halaman yang sedang dunsanak baca saat ini alamat linknya adalah: -----

Jadi, jangan bingung lagi bagaimana cara menemukan alamat link sebuah halaman web. Hehehe :-D

Secara umum, kode dasar HTML yang digunakan untuk membuat sebuah link, sebagai berikut:

<a href="alamat_link">Tulisan, gambar, atau hal lain yang akan diberi link</a>


Misal, alamat link yang akan dituju adalah: http://dindrirahmad.blogspot.com/2011/11/pasang-iklan.html

Sedangkan tulisan/kata-kata yang akan diberi link adalah: Pasang Iklan Murah hannya Rp1.000,-/hari.
Maka cara penulisannya kode HTML-nya adalah:

<a href="http://dindrirahmad.blogspot.com/2011/11/pasang-iklan.html">Pasang Iklan Murah hannya Rp1.000,-/hari</a>


Sehingga hasilnya, sebagai berikut:
Pasang Iklan Murah hannya Rp1.000,-/hari

Mudahkan? :-p

Silahkan dunsanak coba!

 

Makasii dunsanak, semoga bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan komentar ya...

Wassalamu'alaikum.....

Jumat, 27 April 2012

Gratifikasi = “Hadiah”, Haramkah?

Gratifikasi = “Hadiah”, Haramkah?

Arti gratifikasi adalah pemberian kepada seseorang yang terkait dengan jabatan, wewenang, atau tugas.

Islam, melalui lisan Nabi Muhammad Saw. jauh-jauh jari, 14 abad yang lewat telah melarang para ‘amil (pejabat maupun karyawaan) untuk menerima grafikasi yang terkait dengan tugas dan wewenangnya jika telah ditetapkan imbalan atau gajinya. Masalahnya bukan diminta atau diberi; melainkan larangan untuk menerima pemberian (gratifikasi) tersebut. Menerima gratifikasi selain pelanggaran hukum negara, juga memperoleh laknat dari Allah dan Rasul. Na’udzubillahi min dzalik. Imam Muslim meriwayatkan bahwa ketika Abi Dzar Al Ghifari menghendaki sebuah jabatan, Nabi berkata kepadanya: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah. Jabatan itu adalah amanah, dan kelak pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan. Kecuali orang-orang yang memperolehnya dengan cara yang haq, serta menunaikan amanah itu kepada yang berhak.” (Muslim, Kitab Imarah: 3.404).

Dalam riwayat Bukhari disebutkan bahwa Nabi Saw. bersabda: “Sesungguhnya kalian sangat rakus terhadap jabatan yang pada hari kiamat nanti akan menjadi penyesalan.” (Bukhari, Kitab Ahkam:6.615).

Tidak akan masuk surga darah dan daging yang tumbuh dari barang haram. Setiap darah dan daging yang tumbuh dari barang haram, maka api neraka lebih berhak menyantapnya.” (HR. Thabrani)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Humaid As Sa’idi, bahwa Rasulullah Saw. mengangkat seorang ‘amil zakat dari Bani Assad bernama Ibnu Luthbiyah. Tatkala selesai memungut zakat ia berkata kepada Nabi: “Ini kuserahkan kepadamu, dan ini hadiah buatku.”
Lalu Rasulullah berdiri di atas mimbar. Setelah memuji Allah Swt., Nabi bersabda: “Mengapa begitu sikap pegawai yang ku utus. Ia mengatakan ini ku serahkan kepadamu, dan ini hadiah buatku. Mengapa ia tidak tinggal saja di rumah ayah atau di rumah ibunya dan menunggu apakah dia akan diberi hadiah atau tidak. Demi Dzat yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tidaklah berhak seseorang di antaramu mengambil dari sedekah itu. Pada hari kiamat kelak dia datang dengan membawa barang tersebut yang akan dikalungkan di lehernya, mungkin berupa onta yang melanguh, sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik.” Jadi, meskipun kasus ini adalah kasus ‘amil zakat, tapi keutamaan hadits di atas yakni larangan menerima hadiah bagi seorang ‘amil (karyawan), berlaku juga bagi setiap orang yang mendapatkan tugas dan telah memperoleh gaji atau honor dari pekerjaannya tersebut.

Keharaman ini terlihat dari ungkapa Rasulullah: “Mengapa begitu sikap ‘amil yang ku utus....” Larangan ini dipertegas dengan pernyataan Rasulullah Saw. yang menggunakan kalimat maa baalu, (mengapa; dalam bentuk istifham inkari). Pertanyaan yang sifatnya menyanggah. Ungkapan semacam ini lebih keras dari ucapan “jangan”, “tidak boleh” atau “dilarang”.

Para imam pensyarah hadits mengomentari hadits ini sebagai berikut:
Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini menerangkan bahwa hadiah untuk para pegawai itu haram dan suatu penipuan, karena pegawai itu telah berkhianat terhadap kekuasaan dan amanahnya. Dalam hadits ini juga diterangkan sebab diharamkannya hadiah kepada pegawai yang berhubungan dengan kekuasaan”. (Syarah Nawawi, 13: 219)

Penjelasan ini didukung oleh hadits dari Buraidah, bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang kami pekerjakan pada suatu pekerjaan dan diberi gaji dari pekerjaan tersebut, maka apa-apa yang diambilnya lebih dari itu adalah penipuan”. (HR. Abu Dawud III/134, Al Hakim I/1472; sahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).

Pelakunya, kelak dihari kiamat akan datang dengan membawa barang tersebut dengan dikalungkan di lehernya. Demikian ancaman yang disebutkan Nabi Saw. dalam hadits tersebut, termasuk dalam kategori penipuan (ghulul) yaitu hadiah yang diterima disebabkan jabatan atau kekuasaan. Oleh karena itulah, Umar bin Abdul Aziz waktu menjabat sebagai khalifah, menolak hadiah yang diberikan kepadanya. Jadi, mengubah nama sogok dengan hadiah sama sekali tidak merubah sesuatu yang haram menjadi halal.

Kalau dalam hadits sebelumnya Rasulullah menjalskan bahwa semua barang “hadiah” itu akan dikalungkan di leher pelakunya pada hari kiamat bisa berupa kambing yang mengembik, atau sapi yang melenguh, maka untuk pelaku sekarang yang dikalungi kelak bisa berupa rumah, mobil, sepeda motor, komputer, kayu glondongan atau bahkan berhektar-hektar lahan. Masihkah kita punya malu untuk mengangkat wajah di hadapan Allah, dengan sejumlah “perhiasan” disaksikan oleh seluruh umat manusia dihari pembalasan? Na’udzubillahi min dzalik.

Dalam praktek sehari-hari, sering dijumpai segolongan pegawai; baik di instansi pemerintahan maupun swasta, badan memeriksa, anggota legislatif, wartawan, dan sebagainya yang berprinsip, “Jangan pernah meminta tapi kalau diberi jangan ditolak”, sehingga pemberian dari “orang-orang tertentu” yang bermasalah dianggap sebagai hadiah dan berkah dari langit. Pertanyaannya, apakah jika tanpa posisi, jabatan, dan status tertentu atau tanpa kekuasaan, seseorang masih mendapatkan pemberian tersebut? Jika jawabnya tidak, maka jelas pemberian itu adalah suap yang diharamkan dan dilaknat; baik penyuap, penerima suap maupun yang menjadi perantara praktek suap-menyuap tersebut. Allah melaknat orang yang menyuap dan disuap dalam perkara hukum. (HR. Ibnu Hibban XI/5076 bab Risywah).
Wallahu a’lam bish showab.

Disalin ulang dari Buletin Dakwah Masjid Raya Jabal Rahmah Semen Padang, Edisi 102-2009.

Kamis, 26 April 2012

Cara Mengetahui PageRank Blog atau Website

Assalamu'alaikum dunsanak...

 

Sebagian dari dunsanak pasti sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan PageRank. Tapi, pasti juga ada yang belum mengerti dengan hal ini. Menurut Wikipedia.org, PageRank adalah sebuah algoritma yang telah dipatenkan yang berfungsi menentukan situs web mana yang lebih penting/populer.

 

PageRank merupakan salah satu fitur utama mesin pencari Google dan diciptakan oleh pendirinya, Larry Page dan Sergey Brin yang merupakan mahasiswa Ph.D. Universitas Stanford. Sebuah situs akan semakin populer jika semakin banyak situs lain yang meletakkan link yang mengarah ke situsnya, dengan asumsi isi/content situs tersebut lebih berguna dari isi/content situs lain. PageRank dihitung dengan skala 1-10. Contoh: Sebuah situs yang mempunyai Pagerank 9 akan di urutkan lebih dahulu dalam list pencarian Google daripada situs yang mempunyai Pagerank 8 dan kemudian seterusnya yang lebih kecil.

Nah, bagaimana cara dunsanak untuk mengetahui peringkat halaman suatu website?
Dunsanak bisa mencobanya melalui situs http://www.prchecker.info. Pada situs ini, dunsanak akan diminta untuk memasukkan url blog/website yang ingin dunsanak ketahui peringkat/pagerank-nya.


Kemudian klik tombol Check PR, maka akan diperlihatkan hasilnya. Hasil ini pun juga bisa dunsanak embed di situs dunsanak atau lainnya sebagai widget.



Makasii dunsanak, semoga bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan komentar ya... ^_^

Wassalamu'alaikum....

Senin, 23 April 2012

Cara Menampilkan Kode HTML di Postingan Blog

Assalamu’alaikum dunsanak....

Beberapa hari yang lalu, teman satu kelas bertanya, “Dri, gimana sich caranya supaya ‘kurung kecil dari <, besar dari >’ tampil di postingan blog?
Nah, kenapa karakter ini tidak muncul?
Karena 'kurung besar dari >, kecil dari <' ini dianggap sebagai salah satu syntax kode HTML.
Jadi, bagaimana untuk menampilkannya di postingan blog?

Ada 2 cara yang bisa dunsanak lakukan, antara lain:

  1. Dunsanak harus mengganti karakter-karakter/kode-kode perintah dari program HTML dengan kode tertentu.
    Berikut beberapa karakter yang sering digunakan:
    Karakter Notasi Keterangan
    < &lt; Kurung kecil dari terbuka
    > &gt; Kurung besar dari tertutup
    & &amp; Tanda 'dan'
    " &quot; Tanda 'petik dua'
    ± &plusmn; Tanda 'plus minus'
       &nbsp; Spasi (Ngak keliatan,, ya lah, namanya juga spasi... hehe :-D)
    © &copy; Tanda 'copyright' (hak cipta)
    ® &reg; Tanda 'registered' (terdaftar)


    Misalnya, dunsanak akan menuliskan berikut ini di postingan:
    <b><u>Tulisan cetal tebal dan garis bawah</u></b>

    Maka cara penulisan kodenya supaya tampil di postingan blog adalah:
    &lt;b&gt;&lt;u&gt;Tulisan cetal tebal dan garis bawah&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;
     

  2. Cara yang kedua adalah dengan menggunakan textarea.
    Kode HTML yang digunakan untuk membuat textarea adalah <textarea>...</textarea>.
    Contoh:
    <textarea rows="5" cols="28"><b><u>Tulisan cetal tebal dan garis bawah</u></b></textarea>

    Maka yang akan muncul di postingan blog adalah:
     


Bagaimana dunsanak? Cukup mudah bukan?
Silahkan dicoba yo...!
Makasii dunsanak, semoga bermanfaat, dan jangan lupa tinggal komentar ya... ^_^

Wassalamu’alaikum....