Tampilkan postingan dengan label Buletin Mitra Ummah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin Mitra Ummah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2012

Perhitungan Zakat Emas

Perhitungan Zakat Emas

Ibu Fatma memiliki perhiasan emas sebanyak 120 gram (kalung 30 gr, cincin 40 gr, dan gelang 50 gr). Emas yang biasa dipergunakannya tak lebih dari 20 gr dalam kesehariannya (walaupun tukar ganti), setelah berjalan 1 tahun, berapakah zakay yang harus dikeluarkannya?

Jawaban:
Jumlah perhiasan emas: 120 gr.
Emas yang dipakai: 20 gr.
Emas yang tersimpan: 120-20=100 gr (nisab zakat adalah 85 gr).
Perhiasan yang dimiliki oleh Ibu Fatma wajib nisab dan mencapai haul.
Cara menghitungnya: 100 gr x 2,5% = 2,5 gr; yang harus dizakati (ketika ditunaikan zakatnya dapat ditukarkan dengan uang seharga per gram pada saat itu).
 

Disalin ulang dari Buletin Mitra Ummat PKPU Sumbar Edisi 440 thn XI.

Sabtu, 12 Mei 2012

Makanlah dari Rezeki yang Halal

Makanlah dari Rezeki yang Halal

Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Saw., ‘Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih.’”
Dan Dia berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai Tuhan,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya. (HR. Muslim)

Kata ‘thayyib’ atau baik berkenaan dengan sifat Allah. Maksudnya ialah bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa tercampur yang syubhat atau samar-samar, tidak jelas kedudukannya.


Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang disebut pada hadits ini. Hadits ini menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Sebagaimana orang mengelurkan zakat, bersedekah, menyantuni anak yatim, fakir miskin, dan lainnya. Makanan yang enak tetapi tidak halam menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.


Penjelasan kalimat mengenai kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu. Maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum, dan pakaianan dari hasil yang haram. Ia telah mencampur baurkan perbuatan baiknya dengan perbuatan tidak baik. Sebagaiaman orang menyedekahkan uang dari hasil korupsi, meski tujuaanya baik tapi bersumber dari hal tidak halal. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku dzalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?


Orang tersebut dalam hadits ini dijelaskan juga menengadahkan kedua tangannya berdoa kepada Allah memohon sesuatu, namun di tengah doanya itu dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama. Adapun makanannya haram mengandung pengertian maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan doanya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia. Wallahu a’lam.

 

Disalin ulang dari Buletin Mitra Ummat PKPU Sumbar Edisi 478 thn XII.

Sabtu, 05 Mei 2012

Itsar, Mengutamakan Kebutuhan Orang Lain

Itsar, Mengutamakan Kebutuhan Orang Lain
 

Suatu ketika datang seseorang bertemu kepada Rasulullah Saw. dalam keadaan letih dan lapar. Rasulullah kemudian menanyakan kepada istri-istrinya apakah mereka memiliki simpanan persediaan makanan. Namun, tak seorangpun di antara istri Rasulullah yang mulia ini mempunyai simpanan makanan untuk menjamu tamu tersebut.


Akhirnya Rasulullah Saw. menemui sahabatnya dan menawarkan kepada mereka, beliau bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang mau menjamu tamu ini, maka Allah akan merahmatinya.” Lalu berdirilah seorang sahabat dari kalangan Anshar, seraya berkata, “Saya akan menjamunya wahai Rasulullah.”
Akhirnya, diajaklah tamu tersebut pulang ke rumah mereka. Sesampai di rumah, sahabat Anshar ini bertanya kepada istrinya, “Wahai istriku, apakah engkau masih memiliki sesuatu makanan?” Sang istri pun kemudian menjawab, “Tidak, selain sedikit persediaan makanan untuk anak-anak kita.” Maka spontan ia berkata kepada istrinya, “Cobalah bujuk anak-anak kita agar mereka bermain-main, sehingga lupa akan rasa lapar, lalu matikanlah lampu pada waktu makan, dan berpura-puralah bahwa kita juga sedang makan, pada saat tamu kita makan.”


Maka, pada waktu makan malam, dimatikanlah lampu di rumah tersebut, dan dihidangkannya makanan yang semestinya untuk anak-anak mereka, lalu mereka berpura-pura menyantap hidangan bersama sang tamu yang sedang menikmatii makan malamnya. Hingga pada pagi hari, ketika sahabat Anshar ini menghadap kepada Rasulullah, beliau berkata, “Allah heran dengan tingkah kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam,” lalu turunlah surat Al-Hasyr ayat 9, berkaitan dengan kisah sahabat Anshar ini.
Pada kisah lainnya dalam perang Yarmuk, dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan, “Telah syahid al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Hahal dan Suhail bin Amr. Mereka semua dalam keadaan kritis dalam masa perang, ketika mereka itu akan diberi minum mereka menolak meminumnya dan meminta agar minuman itu diberikan kepada saudaranya yang lain. Begitu disodorkan air itu kepada pejuang yang juga dalam kritis, kembali air itu ditolahnya dan meminta agar air itu diberikan kepada saudaranya yang lain kehausan. Sampai akhirnya semuanya meninggal sementara mereka belum sempat meminum air itu."


Dalam riwayat ini perawi menceritakan, “Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits). Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (setetespun)."

Mengutamakan Kebutuhan Saudaranya
Sungguh kisah penuh dengan makna mendalam ini bukanlah dongeng yang biasa diceritakan untuk anak-anak menjelang tidur, atau cerita-cerita fiksi yang ada di film dan sinetron di televisi. Tapi ada kisah nyata yang sangat menggugah dan mengagumkan pernah terjadi di masa Rasulullah. Kisah penuh dengan teladan yang tanpa basa basi dan kepura-puraan yang diperlihatkan oleh salah satu generasi terbaik yang dimiliki oleh dunia, sebagaimana termaktub di dalam hadits Bukhari Muslim. Kisah yang sulit ditemukan bandingannya, terlebih pada zaman modern ini yang mana manusia sudah terjangkiti penyakit egois dan individualis (Ananiyah). Mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan orang lain. Sebagian orang sering mengatakan dalih, jangankan untuk berbagi kepada orang lain, untuk diri sendiri saja masih kurang.
 

Padahal persediaan makanan dan bekal lain yang ada di rumah kita, bukan hanya cukup untuk satu hari atau satu minggu, namun persediaan untuk beberapa bulan ke depan pun sudah kita punyai, tetapi tak timbul sedikitpun rasa belas kasih dan keiinginan berbagi kepada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan. Lebih ironis lagi sebagian orang melakukan penimbunan kebutuhan pokok dengan tujuan mendapatkan keuntungan tanpa peduli kesusahan orang miskin yang akan sulit mendapatkannya.
 

Lebih menyedihkan lagi, sebagian orang bersikap hidup boros dengan menganggap apa yang mereka miliki boleh diperlakukan sesukanya. Membuah makanan dengan begitu saja tanpa berpikir akan lebih manfaat jika diberikan kepada orang kelaparan. Begitu banyak makanan terbuang begitu saja di meja-meja makanan kita sedangkan saudara kita yang lain menahan perih lapar dan dahaga siang dan malam. Mereka menangis tanpa suara tanpa kita menyadari bahwa mereka adakah saudara kita.
 

Kita semua sudah sama-sama hafal sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa kita belum beriman jika kita dalam keadaan kenyang dan kita acuh dan abai terhadap orang-orang di sekitar kita yang bermalam dalam keadaan perut kosong karena tak mempunyai sedikitpun makanan di rumahnya. Bahkan Rasulullah menegaskan dalam sabdanya bahwa persoalan kepekaan terhadap saudara ini sebagai salah satu tanda keimanan. “Tidaklah beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya hingga dia mencintai sebagaimana dirinya sendiri.

Kisah sahabat dari kalangan Anshar itu sungguh luar biasa hebatnya yang begitu ikhlas dan hnya mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, dengan mengutamakan agar kebutuhan saudaranya. Padahal orang itu sama sekali tidak dikenalnya, tidak memiliki pertalian keturunan keluarga dan darah, tetapi ia mampu menggerakan imannya untuk berbuat sesuatu meskipun ia dalam keadaan susah.
 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an terkait hal itu, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah berimana (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajiwin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Pemahaman Itsar
Itsar adalah mendahulukan dan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan orang lain dari diri sendiri, sedang diri sendiri juga dalam keadaan yang sangat membutuhkan. Sebuah akhlak mulia yang diukir dengan tinta emas dalam sejarah bagi pelaku-pelakunya, menembus ke langit hingga Allah Swt. heran dan takjub. Sesungguhnya itsar bukanlah sesuatu yang utopia dan tidak mungkin kita hiaskan pada diri kita sebagai akhlak dan sifat kita, namun terkadang nafsu akan dunia sangat dominan bercokol di hati dan fikiran kita. Pertimbangan dan perhitungan untung rugi yang bersifat materi dan keduniaan sering kali membuat kita merasa berat jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan yang pada saat yang sama kita juga membutuhkan.
 

Hitunglah betapa seringnya kita memberikan isyarat dengan tangan kita kepada orang yang meminta-minta, sebagai tanda kalau kita tak hendak memberi, betapa seringnya kita menerima tamu di rumah kita sebagai beban dan merepotkan, padahal Rasulullah sudah mengingatkan kita barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya. Atau betapa seringnya tetangga sebelah rumah kita hanya mencium harum dan sedapnya aroma makanan yang kita masak, tanpa pernah terpikir di benak kita untuk berbagi dengan mereka.
 

Kita tahu bahwa seberat dzarrah pun kebaikan, pasti Allah akan memberikan ganjaran dan pahalanya di akhirat nanti, namun perasaan kurang yakin dan egoisme yang ada di dada kita senantiasa menghalangi kita untuk berbuat baik, sehingga kita lebih mementingkan kebahagiaan di dunia dan mengabaikan yang abadi di akhirat. Angan dan khayal kita tentang dunia senantiasa membumbung tinggi, sehingga lalai mempersiapkan kehidupan di akhirat dengan amal-amal shalih.
 

Bagi para pemujanya, dunia adalah segala-galanya, yang mereka cari dan usahakan adalah kebahagiaan dunia, dengan melupakan Allah dan akhirat. Sehingga saat kematian menjemputnya, kebahagiaannya terhenti samapai di situ, yang tinggal hanyalah sesal dan sengsara. Allah Swt. berfirman tentang orang-orang ini, “Tetapi kalian lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)
Itsar sering kita anggap sebagai sesuatu yang sulit dan berat kita lakukan, telah diabaikan dalam sejarah dengan tinta emas oleh para sahabat Rasul dengan sangat mengagumkan. Bukan hanya sebatas lapar dan haus yang mereka tanggung demi saudaranya, namun nyawa mereka persembahan untuk Allah Swt., demi itsar terhadap saudaranya, sebagai teladan dan hikmah untuk kita. Insya Allah.* Disarikan Tim Buletin Mitra Ummat.
 

Disalin ulang dari Buletin Mitra Ummat PKPU Sumbar Edisi 478 thn XII.

Minggu, 08 Januari 2012

Bahagiakan Hidup dengan Iman


Bahagiakan Hidup dengan Iman
Oleh Syarifuddin Mustafa, MA.


Iman secara bahasa adalah kebalikan dari Kufur; yaitu pengakuan yang terpatri dalam hati sementara kufur adalah ketiadaan pengakuan.
Adapun iman secara syara’ adalah membenarkan dalam hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

Dari definisi dapat dipahami bahwa iman adalah tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan dalam berbagai ucapan dan perbuatan yang sama dalam satu keyakinan, maka orang-orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakannya sama. Sebagaimana orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip atau juga orang yang pandangan hidup yang jelas dan sikap hidup yang teguh tanpa terombang-ambing oleh silaunya kehidupan dunia.

Pembagian Iman
Iman ada dua macam, yaitu:
  1. Iman yang hak, yaitu iman yang ditujukan kepada Allah, Rasul, kitab-kitab, malaikai, yaumul akhir, dan takdir, senantiasa mengarahkan hidupnya karena Allah dan sesuai dengan keyakinannya.
  2. Iman yang batil, yaitu iman yang ditujukan kepada selain Allah, tidak sesuai dengan syariat Allah, beriman kepada dukun, sihir, ahli nujum (peramal) dan lain sebagainya, sebagaimana mereka juga yang senantiasa berpegang teguh pada keyakinan yang salah dan tidak mau menerima kebenaran yang diterima.

Iman adalah cara Allah memelihara jati diri manusia dan memberikan kebahagiaan hakiki.
Jika dipahami dengan seksama ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Saw., maka akan ditemukan pentingnya iman pada diri setiap insan dalam menjalani hidupnya di muka bumi ini. Dengan iman maka hidup seseorang akan memiliki nilai, makna dan jati diri yang mulia di sisi Allah, bahkan dengan itulah manusia mendapatkan kebahagiannya yang hakiki.

Seseorang boleh berbangga dan merasa bahagia pada saat memiliki kekayaan, harata berlimpah, rumah mewah, tanah yang luas, jabatan yang tinggi atau umur yang panjang namun harus disadari itu semua merupakan kebahagiaan nisbi yang terbatas pada kehidupan duniawi belaka, apalagi jika tidak dilandasi dengan iman maka segala kenikmatan tersebut akan berbuah malapetaka. Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan”. (Ali Imran: 178)

Allah juga berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan (kesenangan berupa kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahan mereka) orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Akan tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti”. (Ali Imran: 196-198)

Tanpa iman hidup manusia akan hampa, tidak memiliki nilai dan jati diri di sisi Allah dan bahkan tidak berbeda dengan makhluk lain seperti binatang, bahkan lebih rendah dari binatang.

Marilah kita lihat beberapa ayat Allah tentang hakikat iman yang dapat memberikan setiap insan menggapai kemuliaan dan jati diri yang terbaik di sisi Allah.
  1. Manusia selalu dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman yang tidak akan mengalaminya.
    Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Ashr: 1-3)
  2. Manusia adalah makhluk sempurna, namun kesempurnaannya akan dapat jatuh dan hina jika tidak dipertahankan dengan keimanan.
    Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (At-Tiin: 4-6)
  3. Manusia yang beriman senantiasa mendapat kehidupan yang baik dan sejahtera serta ganjaran berlimpah di sisi Allah.
    Allah berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan berimana, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (An-Nahl: 97)
  4. Manusia yang beriman, umurnya senantiasa dilimpahi keberkahan dan mendapat rahmat sepanjang hidupnya.
    Nabi Saw. Bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya”. (Tirmidzi)

Sementara itu, manusia tanpa iman akan mengalami kerugian besar, baik di dunia maupun di akhirat, bahkan Allah Swt. mentamtsilkan orang-orang kafir dengan berbagai tamtsil yang sangat buruk.
  1. Manusia tanpa iman, ibarat binatang hina bahkan hina dari itu.
    Allah berfirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (Al-Furqan: 43-44)
  2. Manusia tanpa iman, segala perbuatannya bak fartamogana yang akan hampa dan tanpa nilai yang berharga di sisi Allah.
    Allah berfirman: “Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengn Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezhaliman”. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijaan mahjuuraa. Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang bertebangan”. (Al-Furqan: 21-23)
    Dan Allah juga berfirman: “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datarm yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisi-Nya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”. (An-Nuur: 39)
  3. Manusia tanpa iman, kehidupannya bak laba-laba yang membuat sarang (jaring) sebagai tempat tinggal yang mudah dihancurkan.
    Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumat. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”. (Al-Ankabut: 41)
  4. Manusia tanpa iman, kehidupannya bak anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya.
    Allah berfirman: “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (Al-A’raf: 176)

Dikutip dari “Buletin Mitra Ummah oleh Lembaga Kemanusiaan dan Amil Zakat Nasional PKPU Cabang Sumatera Barat”. Edisi 463 thn XII.

Jumat, 16 Desember 2011

Berhati-Hati dengan Waktu Luang


Berhati-Hati dengan Waktu Luang
Oleh Mochamad Bugi


Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling” (QS. Al-Hajj: 1). Maha Kuasa Allah yang menciptakan arena bumi sebagai sarana ujian. Kekayaan alam yang bergitu melimpah. Sungai-sungai jernih yang melahirkan kehidupan. Huja yang membangkitkan harapan. Dari situlah hamba-hamba Allah membuktikan diri: apakah ia sebagai hamba yang konsisten atau dusta.

Ada baiknya berhati-hati dengan yang boleh. Tak ada yang tanpa batas di dunia ini. Karena sunnatullah dalam alam, semua tercipta dalam takaran tertentu. Dari takaran itulah, keseimbangan bisa langgeng. Termasuk keseimbangan dalam diri masnusia.

Kalau keseimbangan goyah, yang muncul adalah kerusakan. Dalam diri manusia, ada tiga keseimbangan yang mesti terjaga: keseimbangan akal, rohani, dan fisik. Satu keseimbangan terganggu, selutuh fisik mengalami kerusakan.

Ketidakseimbangan bukan cuma dari sudut kekurangan. Berlebih-lebihan pun bisa memunculkan ketidakseimbangan. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis. Di antara urusan fisik adalah makan dan minum.

Allah Swt. berfirman, “....makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Berlebih-lebihan dalam makan dan minum, walaupun halal, bisa memunculkan penyakit. Lebih dari 50% sumber penyakit berasal dari lambung. Karena itulah, Rasulullah Saw. meminta kaum muslimin untuk mengerem makan. Dan cara yang paling bagus adalah dengan puasa. Beliau Saw. mengatakan, “Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat”. (Al Hadits)

Masih banyak hal boleh lain yang mesti pas dengan takaran. Diantaranya, hubungan seksual suami istri, tidur, dan juga bersantai.

Sayangnya, ada kecenderungan manusia memilih jalan yang gampang daripada yang sukar. Lebih memilih santai ketimbang banyak kerja. “Maka tidaklah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (QS. Al-Balad: 11). Santai pada timbangan yang proporsional memang bagus. Karena itu bermakna istirahat. Dari istirahatlah keseimbangan baru bisa lahir. Dengan istirahat, lelah bisa tergantikan dengan kesegaran baru.

Tapi, ketika santai tidak lagi proporsional, yang muncul hura-hura dan kemalasan. Orang menjadi begitu hedonis. Orientasi bergeser dari keimanan kepada serba kesenangan. Saat itu, santai tidak cuma menggusur jenus, tapi juga kewajiban-kewajiban. Bisa kewajiban sebagai suami, anak, dan juga sebagai hamba Allah Swt.

Di antara ciri orang beriman adalah berhati-hati dengan perbuatan yang sia-sia. Allah Swt. berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al-Mu’minun: 1-3)

Rasulullah Saw. mewanti-wanti para sahabat agar berhati-hati dengan waktu senggang. Beliau Saw. bersabda, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari)

Ada banyak cara menggusur letih dan jenuh. Letih dan jenih kadang tidak cuma bisa disegarkan dengan santai. Ada banyak cara agar penyegaran bisa lebih bermakna dan sekaligus terjaga dari lalai. Para sahabat Rasul biasa mengisi waktu kosong dengan tilawah, zikir, dan shalat sunnah. Itulah yang biasa mereka lakukan ketika suntuk saat jaga malam. Bergantian, mereka menunaikan shalat malam.

Bentuk lainnya adalah bermain dengan istri dan anak-anak. Rasulullah Saw. pernah lomba lari dengan Aisyah r.a. Kerap juga bermain ‘kuda-kudaan’ bersama dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Dari sini, santaibukan sekadar menghilangkan jenuh. Tapi juga membangun keharmonisan keluarga.

Rasulullah Saw. mengatakan, “Orang yang cerdik ialah yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah.” (HR. Abu Daud)

Dan harus kita sadari betul, ada pihak lain yang mengintai kelengahan kita. Pertarungan antara hak dan batil tidak kenal istilah damai. Tetap dan terus berlangsung hingga hari kiamat. Dari situlah, saling mengintai dan saling mengalahkan menjadi hal lumrah. Dan kewaspadaan menjadi hal yang tidak boleh dianggap ringan.

Pihak yang jelas-jelas melakukan pengintaian adalah musuh abadi manusia. Dialah iblis dan para sekutunya. Allah Swt. membocorkan itu dalam firman-Nya, “Iblis mengatakan, ‘Karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’”. (QS. Al-A’raf: 16-17)

Pihak lain adalah kelompok manusia yang tidak suka dengan perkembangan Islam. Mereka selalu mengintai kelemahan umat Islam, mengisi rumah-rumah umat Islam dengan hiburan yang melalaikan. Bahkan, mengkufurkan. Masih banyak upaya lain orang kafir untuk menghancurkan Islam.

Karena itu, berhati-hatilah dengan waktu luang. Kalau tidak bisa diisi dengan yang produktif, setidaknya, isilah dengan yang tidak melalaikan.

Dikutip dari “Buletin Mitra Ummah oleh Lembaga Kemanusiaan dan Amil Zakat Nasional PKPU Cabang Sumatera Barat”. Edisi 289 thn VIII.