Tampilkan postingan dengan label Harian Umum Haluan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harian Umum Haluan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011

Gasiang Tangkurak, Memadukan Mistik dan Seni


Gasiang Tangkurak
Memadukan Mistik dan Seni


Sulit dikatakan, bahwa gasiang tangkurak itu dikatakan sebuah seni, karena ia tidak pernah dipertontonkan dan dinikmati khalayak, namun muaranya lebih kepada mistik belaka. Tapi, bagai manapun juga, prosesi memainkan gasiang tangkurak khusus di Pesisir Selatan tetap tidak bisa dipisahkan dari rabab. Dalam memainkannya menggunakan alat musik dan nyanyian rabab.

Berikut penulis laporkan sekelumit tentang gasiang tangkurak. Setelah dibujuk dan menunggu enam bulan, akhirnya salah satu pewaris gasiang tangkurak di Lengayang, Pesisir Selatan mengajak penulis untuk mengenal lebih dekat dengan hasiang tangkurak pada awal Juli 2011 ini.

Rupanya lokasi praktek dukun gasiang tangkurak tidak sembarangan saja. Letaknya harus jauh dari keramaian dan terasing,. Dengan berjalan kaki sekita 3 kilo meter di sebuah kampung di Lengayang, lantas sebuah pondok tempat praktek dukun gasiang tangkuran dijumpai. Lengang, sunyi dan terasing.

Lokasi seperti ini sarat mutlak untuak manggasiang”, ungkap dukun gasiang yang tidak bersedia disebutkan namanya itu.

Selepas Isya, sang dukun memperkenalkan peralatan gasiang. Di sana ada dua buah gasiang yang konon kabarnya terbuat dari tulang kening manusia. Masing-masing gasiang punya sejarah pula, yang satunya dibuat karena wasiat dari pemilik tulang kening itu. Yang kedua atas inisiatif. Kedua gasiang itu telah diwariskan sebanyak empat kali, artinya sang dukun yang memegang gasiang saat ini adalah pewatis keempat semenjak gasiang itu dibuat ratusan tahun lalu.

Kemudian di ruangan itu terdapat dua buah kardus mi instan yang berisikan tumpukan foto laki-laki dan wanita.

Iko nan lah berhasil, samantaro nan di kardus ciek lai masih dalam proses; [Ini yang telah berhasil, sementara yang di kardus satu lagi masih dalam proses]”, kata dukun gasiang tersebut.

Rupanya yang meminta jasa perdukunan ini sangat banyak, dan dari berbagai lapisan.itu terlihat dari foto yang terdapat di kotak tersebut, bahkan selain anak muda juga ada ibu rumah tangga.

Dan yang mengejutkan, ternyata di sana juga ada foto beberapa orang PNS dan pejabat daerah. Ternyata PNS juga masih percaya dengan klenik seperti ini. Foto pemuda berseragam polisi dan tentara.

Inyo nan minta tolong tantu dibantu; [Dia yang minta tolong tentu dibantu]”, kata dukun lagi.

Sebuah biola tua tampak tergantung di dinding. Tepat pukul 12.00 WIB, sang dukun bersiap-siap melakukan praktek gasiang. Bau kemeyan menusuk hidung. Ia mulai memungut biola dan memainkannya. Tepat dihadapannya ada dua buah foto, laki-laki dan perempuan, keduanya disatukan dengan sebuah jarum, ditusuk tepat di jantungnya. “Ini untuk menyatukan”, kata dukun tersebut.

Selepas itu sang dukun menyelipkan ujung tali pancarono ke ibu jari kaki kirinya, sembari dengan tangan kanan menarik ujung lainnya. Gasiang mulai berputar. Dari mulutnya masih terdengar suara berupa mantera yang dinyanyikan dengan irama rabab yang khas (iramanya mirip dengan ratok si kambang), tapi tidak diiringi gesekan biola. Kadang terdengar kuat, kemudian merendah dengan irama yang menyentak hulu hati.

Demikian berkali. Bila terasa lelah, ia istirahat.kemudian diulanginya lagi. Setidaknya pada malam itu ada tiga pasang foto yang dimainkannya. “Ada yang minta dipisahkan, ada yang minta mantan kekasihnya bathinnya sengsara, ada pula yang minta disatukan kembali”, katanya.

Menjelang subuh praktek mistik itu selesai. Tidak ada yang aneh saat operasi gasiang tangkurak itu berlangsung kecuali suasana sepi. Yang menarik bagi saya adalah, bahwa gasiang tangkurak ini dimainkan dengan alat kesenian rabab pasisie, namun sang dukun tidak pula tahu jenis irama lagu yang dia mainkan. “Lah bantuak itu ditarimo dari guru ambo; [Sudah bentuk itu diterima dari guru saya]”, katanya. (Laporan Haridman Kambang).


Dikutip dari Harian Umum “Haluan”. Edisi Minggu, 10 Juli 2011.

Kamis, 15 Desember 2011

Sejarah, Budaya, dan Musik Talempong; Ibarat Tali Tigo Sapilin


Sejarah, Budaya, dan Musik Talempong
Ibarat Tali Tigo Sapilin
Oleh NUSYIRWAN (Kepala Pusat Penelitian Seni Budaya Melayu Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat)


Kajian sejarah dibutuhkan guna mendalami latar belakang keberadaan dan perubahan yang dialami talempong yang berhubungan dengan waktu, perkembangan secara kronologis yang berkaitan dengan sejarah masuknya sistem modernisasi (diatonis) ke dalam budaya masyarakat Minangkabau, maka kajian sejarah tentang cerita atau narative tentang peristiwa masa lampau, akan dapat mengungkapkan fakta mengenai apa, siapa, kapa, dimana, dan bagaimana sesuatu terjadi.

Pendekatan sejarah dipakai karena perubahan-perubahan yang dialami oleh musik tradisional Minangkabau, khususnya musik talempong, tidak terlepas dari pengaruh kontak budaya yang terjadi semenjak masuknya bangsa Portugis pada abad XVI, serta melalui pendidikan zaman kolonial, yang pada waktu itu sangat mempengaruhi perilaku dan cara berpikir masyarakat Minangkabau. Pendekatan sejarah terutama pada sejarah pendidikan karena jalur pendidikan inilah yang menjadi salah satu pintu masuk sistem modernisasi (diatonis) dalam kehidupan budaya musik di Minangkabau.

Perubahan budaya yang terjadi dan merupakan salah satu dampak dari adanya kontak budaya tradisional dengan budaya Barat, dalam hal ini misalnya sistem nada musik Minangkabau yang sudah ‘dimodernisasi’ [dengan kata lain (sistem penarannya: Indonesia); (sistem penglarasannya: Jawa); (sistem penstelannya: Minang) musik Minangkabau sudah menggunakan acuannya alat musik Barat atau alat musik digital (diatonis)].


Budaya dan Musik
Berbicara masalah musik ataupun seni lainnya tentu keberadaannya tidak akan terlepas dari masyarakat, sebagai salah satu bagian yang terpenting dalam kebudayaan, dan bahasa ungkap yang lebih tepat kiranya bahwa masyarakat itu adalah penyangga kebudayaan. Berbagai macam bentuk kesenian adalah ungkatan kreativitas dari kebudayaan itu sendiri. Masyarakat yang menyangga kebudayaan misalnya kesenian/seni mencipta, memberi peluang untuk bergerak, memelihara, menularkan, mengembangkan untuk kemudian menciptakan kebudayaan baru lagi. Dan dapat ditambahkan bahwa kesenian yang berhadapan dengan masyarakat dalam arti kesenian memberikan atau menawarkan interprestasinya tentang kehidupan kepada masyarakat, kemudian masyarakat menyambutnya dengan berbagai cara.

M. Dwi Marianto, mengatakan bahwa, dalam setiap budaya, dimanapun tempatnya, selalu ada berbagai pemaksaan mengenai topik apa saja, dan selalu ada lebih dari satu cara menafsir. Jadi, kalau makna sesuatu selala berubah, maka praktik pemaknaan harus meliputi suatu proses penafsiran yang aktif. Makna harus dibaca untuk ditafsirkan secara aktif. Untuk memudahkan pemahaman mengenai makna yang selalu berubah, karya seni bisa dipahami sebagai sebuah teks. Maka penafsiran bukan sebagaimana praktek mencari maksud pengarang yang tersembunyi di balik teks, terlepas dari maksud pengarang atau orang lain.

Keistimewaan potensi yang dimiliki oleh masyarakat tradisi dalam membawakan peetunjukan musiknya tidaklah mudah ditiru oleh kalangan seniman yang sudah menempuh jenjang pendidikan, hal ini perlu kita hargai. Kemudian bagaimana seni tradisi itu di tengah arus perubahan bukanlah hal yang harus ditakuti, namun harus dicermati, didekati, dengan mendahulukan masalah kecerdasan dan kearifan para pendukungnya. Mengenai nilai-nilai dalam seni tradisi, kita dapat belajar memahami tentang semangat (spirit) komunalitas dan partisipasi atau dedikasi. Kolektivitas (solidaritas) menjadi perekat kehidupan mereka. Kesenian yang mereka cipatakan lebih sebagai kebutuhan bersama, sebagai sarana aktualitas bersama. Karena itu hidup matinya tergantung dari kesetiaan para pendukungnya. (I Made Bandem, “Seni Tradisi di Tengah Arus Perubahan”, Seni Tradisi Menantang Perubahan: Bunga Rampai. Mahdi Baharm, ed., Padangpanjang: 2004).

Terkait dengan budaya, tentu saja kajian etnografi, maupun antropologi juga meliputi kajian semiotika yang didalamnya memiliki kajian astetik, merupakan penguatan untuk lebih memasuki ranah budaya, apalagi yang urusannya dengan sejarah. Sebuah konteks budaya memang sayanga luas dan oleh karena itu, pemahaman sebuah penulisan yang berhudungan dengan kajian kesenian di Indonesia pada umumnya, pemahaman budaya dan mitologi Minangkabau di Sumatra pada khususnya, jelaslah sangat memiliki kterkaitan.


Tali Tigo Sapilin
Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan, pepatah yang demikian dalam kebudayaan orang Minangkabau, jelas hal yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, apalagi kehidupan yang makin hari makin memiliki berbagai kerumitan (ekonomi). Peristiwa penting dalam perkembangan sebuah institusi ilmiah yang menamakan dirinya adalah pusat kajian budaya Melayu, sangat diharapkan tida konsep utama dalam perilaku kehidupan yang memiliki sifat jalinan dan tidak dapat didirikan, jika sebuah kakinya ditiadakan (tungku tigo sajarangan). Pemaknaan itu dapat diartikan dalam berbagai pola kehidupan, dan lebih tertuju pada pola pemikian ilmiah, dalam sebuah penelitian. Dalam pengkajian seni dan budaya yang ditujukan untuk mendalami persoalan masa lampau, inilah ilmu sejarah.

Suatu hal yang harus diketahui oleh sipenulis, bahwa untuk meneliti sejarah tidaklah semudah yang dibayangkan. Penelitian sejarah sesungguhnya membutuhkan metode-metode dan kajian sejarah itu memang harus dikerjakan secara holistik, jika ingin menemukan hasil yang lengkap dan valid. Segala penelitian sejarah harus dibarengi dengan data-dataautentik. Hanya saja untuk penelitian sejarah mengenai seni dan budaya di Minangkabau sangat sulit dilakukan, sebab data-data yang dimiliki oleh kebudayaan Minangkabau, kebanyakan hanya bersifat lisan (oral), dan lebih cenderung dengan bahasa turun temurun yang diceritakan dengan “kaba” atau yang dikabarkan. Semoga tajuk kali ini dapat menimbulkan inspirasi baru untuk penulis dan pembaca agar lebih berhati-hati dalam memberikan berbagai informasi seni dan budaya.

Tulisan itu jelas memberikan penekanan terhadapa aturan dalam menulis, yaitu:
  1. Berlaku universal dengan acuan kepatuhan ilmiah (sciencetific merit).

  2. Peneliti harus bersikap kritis.

  3. Ilmuan harus reseptif dan terbuka terhadap ide-ide baru.

  4. Pengetahuan ilmiah harus dimiliki dan dihayati.

  5. Sebagai norma budaya umum, ketidakjujuran mengambil gagasan orang lain tanpa menyebut sumbernya adalah ‘plagiat’ dan tabu dalam kegiatan ilmiah (honesty).



Dikutip dari Harian Umum “Haluan”. Edisi Minggu, 12 Juni 2011.

Minggu, 11 Desember 2011

Rabab Pasisie, Bertahan di Tengah Gempuran Musik Global


Rabab Pasisie
Bertahan di Tengah Gempuran Musik Global

Di Pesisir Selatan (Pessel) menurut data Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga setempat, terdapat ratusan tukang rabab pasisie. Mereka berdomisili tersebar merata hampir di setiap kecamatan, mulai dari daerah Siguntuo, Koto XI Tarusan, hingga Lunang Silaut, perbatasan Pessel – Muko-Muko. Selain itu adalagi tukang rabab yang mengembangkan karier di luar Pessel.

Di antara mereka ada yang menjalani profesi sebagai tukang rabab secara profesional. Artinya, tukang rabab itu hidup dari hasil barabab dengan mengisi acara dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Namun ada pula yang melakukannya sebagai pekerjaan sampingan atau sekedar hobi.

Banyaknya tukang rabab pasisie, menandakan tradisi rabab masih bertahan dan bahkan disebut masih menjadi tuan rumah di bumi rang pasisie tersebut. Disisi lain masyarakat Pesisir Selatan baik yang di kampung maupun perantauan masih menyukai musik ini. Artinya ada semacam dukungan.

Dukungan masyarakat kampun dan rantau diyakini sangat berhubungan dengan lestarinya rabab pasisie, lestarinya sebagai macam lagu dan irama rabab pasisie. Misalnya lagu anak balam, ratok si kambang, si kambang manih, dan raun sabalik-nya yang khas dan menarik semua level penikmat rabab tersebut.

Musik yang asli oleh tukang rabab dikembangkan pula lewat berbagai improvisasi, yaitu dengan memadukannya dengan suasa dan warna musik baru yang mengikuti selera kekinian. Maka tidak jarang didengar, gesekan biola diiringi gendang, diiringi musik remik. Lantas animo generasi muda untuk mewarisi rabab. Hal ini sangat ditentukan oleh latar belakang motivasi. Jika ditanyai motivasi tukang rabab belajar main rabab diawali dengan iseng-iseng sebagai pengisi waktu senggang, tapi pada akhirnya berubah menjadi tukang rabab profesional. Konsep pewarisan tradisi musk rabab berjalan seperti itu saja dari dahulu.

Lalu bagaimana dengan kesejahteraan tukang rabab? Kita bisa lihat, betapa Raja Rabab Pasisie, Pirin Asmara hampir sepanjang hayanya dilewatkan untuk melastarikan musik rabab. Hidup dan beraktivitas di dunia ini. Singkat kata, jika dikelola dengan baik, tukang rabab bisa hidup layak.

Selanjutnya sederata nama-nama yang juga telah menembus dapur rekaman. Belum lagi jika disebut tukang rabab di bawah generasi almarhum Pirin Asmara, meski belum beroleh kesempatan untuk rekaman, namun eksistensinya masih kelihatan dengan jelas, keberadaannya tetap diperhitungkannya. Paling tidak hal itu dibuktikannya dengan eksisnya mereka mengisi berbagai acara.

Apa yang mereka lakukan tidak terlepas dari keinginan untuk bertahan hidup dengan bekerja sebagai seniman rabab pasisie. Tidak heran pula jika di Pessel menjamur grup kesenian guna mewadahi keingin insan seni rabab.

Ancaman terbesar adalah serbuan aneka jenis musik modern. Dikhawatirkan ia akan menggilas musk rabab, generasi yang hidup dalam suasana modern dan membutuhkan suasana alam yang dinamis sepertinya enggan mewarisi tradisi musik rabab pasisie.

Tradisi musik rabab pariaman atau dendang pauah kini nasibnya diambang puanah karena kurangnya pewaris musik tersebut, maka kekhawatiraan itu juga hinggap dimusik rabab pasisie. Jika tidak cepat diselamatkan tidak mustahil rabab pasisi juga mengalami nasib yang sama.

Dinas Pariwisata dan instansi terkait dalam pembinaan aset budaya seharusnya perlu merancang strategi agar aset ini tidak tenggelam begitu saja ditengah berkembangnya berbagai bentuk musik.

Perlu juga dilakukan pembinaan berkesinambungan terhadap keberadaan kelompok-kelompok kesenian maupun individual yang aktif melangsungkan kegiatan seni rabab.

Musik rabab pasisie sebelum terjebak ke dalam bayang-bayang kepunahan seharusnya segera melakukan pengembangan kreatif, baik yang dilakukan oleh seniman atau kreativitas non-seniman tentu saja memakai filter Minangkabau. Semoga musik rabab tetap bertahan. (Laporan Haridman Kambang).


Dikutip dari Harian Umum “Haluan”. Edisi Minggu, 10 Juli 2011.